Hikmah Idul Adha. Sebuah renungan tentang Keimanan, Kesabaran, Keikhlasan dan Solidaritas Sosial

18 10 2012

Disusun oleh : Tri Setiadi

Bulan ini kita memasuki salah satu bulan agung dalam Islam yaitu bulan Dzulhijjah dimana pada bulan ini umat Islam diseluruh dunia berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang terakhir yakni Ibadah Haji yang dipandang sebagai rukun pamungkas, penyempurna rukun Islam. Dalam ibadah ini umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di kota Makkah untuk melaksanakan proses-proses ibadah haji yang diawali dengan wukuf di Arafah hingga Thawaf Wada’ atau Thawaf perpisahan yang dilaksanakan pada saat meninggalkan kota Makkah. Ibadah Haji ini semakin menegaskan citra agama Islam sebagai agama yang egaliter, agama yang menempatkan prinsip persamaan sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Dalam pelaksanaan ibadah ini umat islam berkumpul dengan menanggalkan segala macam status yang disandangnya tanpa memandang status sosial, kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, kulit hitam dan kulit putih, berbagai ras didunia tanpa memandang perbedaan semua berjalan seirama melaksanakan urutan-urutan ibadah dengan satu semangat persatuan Islam dalam rangka menegakkan agama Allah dan menaati perintahNya.

Dibulan ini pula mendekati Hari Raya Idul Adha kita kembali diingatkan pada sebuah kisah luar biasa tentang keimanan, kesabaran dan ketaatan seorang Nabi Ibrahim yang demi perintah Tuhannya rela mengorbankan anaknya Ismail. Untuk sekedar merefresh kembali ingatan kita, kisah ini berawal dari kerisauan Nabi Ibrahim yang setelah menikah dengan Sarah belum juga dikaruniai keturunan hingga akhirnya Sarah mengizinkan Nabi Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar. Nabi Ibrahim pun berdoa dan memohon kepada Allah agar beliau diberi kepercayaan untuk memiliki seorang putra dan Allah pun mengabulkan doanya hingga akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki dari kandungan Siti Hajar yang sangat menggembirakan hati Nabi Ibrahim. Kehadiran Ismail membuat cemburu Sarah yang merasa Ibrahim lebih sering berdekatan dengan Siti Hajar karena kelahiran Ismail hingga akhirnya dengan petunjuk Allah Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail ke tempat yang kini kita kenal dengan kota Makkah yang pada saat itu hanya berupa gurun tandus tak berpenghuni dan meninggalkan mereka disana.

Hari berlalu dan tahun berganti akhirnya Nabi Ibrahim kembali ke Makkah untuk menemui istri dan putranya tercinta. Betapa bahagianya beliau ketika melihat Ismail yang mulai tumbuh besar sehingga semakin menambah besar rasa kasih dan sayangnya kepada Ismail. Namun ditengah-tengah rasa sukacitanya dapat berkumpul dengan putra terkasih tiba-tiba pada suatu saat Nabi Ibrahim bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih Ismail. Beliau kaget, keraguan dan kebimbangan menyelimuti hatinya benarkah ini sebuah perintah dari Allah atau jangan-jangan ini hanya tipudaya setan belaka? demikian batinnya berkecamuk. Hingga akhirnya beliau mendapat mimpi dan perintah yang sama hingga terulang tiga kali dan Nabi Ibrahim pun menetapkan tekad dan menguatkan hati lalu meyakini kalau ini adalah benar-benar perintah Allah yang harus dilaksanakan.

Nabi Ibrahim pun pergi menemui putranya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya. Semula beliau khawatir akan jawaban anaknya, tapi Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Betapa terharunya beliau mendengar jawaban dari anaknya yang shaleh sehingga makin menambah rasa sayangnya sekaligus menambah kesedihannya karena teringat bahwa beliau akan kehilangan anak yang dikasihinya. Akhirnya ayah dan anak ini pun membulatkan tekad dengan penuh keimanan dan ketaatan untuk segera melaksanakan perintah Allah tersebut, parang yang sangat tajam pun disiapkan dan mereka berangkat menuju suatu tempat untuk melaksanakan perintah tersebut. Dan akhirnya saat-saat terberat bagi Nabi Ibrahim pun tiba… dengan mengumpulkan segenap keyakinan dan dengan penuh kepasrahan Nabi Ibrahim pun mengayunkan parang ke leher Ismail dan mulai menyembelihnya. Namun apa yang terjadi…. parang yang sudah begitu tajam seakan-akan menjadi tumpul dan tidak mampu melukai leher Ismail… tak ada setetes darahpun keluar dari leher Ismail, Nabi Ibrahim pun mengulangi dan tetap saja Ismail tidak terluka sedikitpun. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk tidak meneruskan menyembelih Ismail dan digantikan oleh Allah dengan seekor hewan sembelihan yang besar (para ulama sepakat kalau hewan sembelihan yang dimaksud adalah sejenis kambing atau domba). Dan kejadian ini menjadi asal mula disunnahkannya berkurban bagi umat Islam pada Hari Raya Idul Adha .

Sungguh sebuah kisah yang sangat luar biasa yang barangkali tidak akan ada seorang pun dari kita yang sanggup menyamai kepasrahan, ketaatan, dan keimanan Nabi Ibrahim sehingga kisah ini diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaaffaat Ayat 99-108 : Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (QS. 37:99-108)
Lalu apa hikmah yang dapat kita petik dari kisah diatas? banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil, tapi disini kita akan coba mengambil 4 poin untuk kita jadikan bahan renungan diantaranya :

1. Keimanan
Dalam kisah diatas tergambar dengan jelas sikap Nabi Ibrahim dan Ismail dalam memahami perintah dari Tuhannya. Keimanan datang dari sebuah keyakinan dimana dalam hal ini Nabi Ibrahim meyakini bahwa perintah yang datang dari Tuhannya adalah sebuah kebenaran yang mutlak harus dipatuhi olehnya sebagai hambaNya. Namun demikian bukan berarti bahwa Nabi Ibrahim tidak menggunakan akal dan logikanya dalam memahami perintah Allah, dapat kita lihat dari kisah diatas ketika Nabi Ibrahim mendapat mimpi yang memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya, beliau tidak serta merta mengamini dan kemudian tanpa pikir panjang melaksanakan perintah tersebut. Dalam kapasitasnya sebagai seorang nabi Ibrahim tetap seorang manusia yang dikaruniai akal apalagi jika kita flashback kemasa lalu pada masa-masa pergolakan batin Ibrahim saat mencari Tuhan terlihat jelas bahwa seorang Ibrahim mempunyai logika berpikir yang sangat baik. Dalam kisah diatas Nabi Ibrahim pun akhirnya meyakini kebenaran mimpinya setelah mimpi itu terulang tiga kali, ini menandakan bahwa keimanan bukanlah sekedar taqlid namun keimanan haruslah dibarengi dengan ilmu yang dapat mendukung ketika akal pikiran kita mencoba untuk menelaah keimanan tersebut dari sisi ilmiah. Bagaimana relevansinya dengan fenomena terjadinya rentetan bencana yang seolah tiada henti di Indonesia? Bencana atau musibah haruslah kita yakini sebagai sebuah ketentuan atau takdir dariNya entah itu sebagai ujian, cobaan atau hukuman, kita sebagai seorang muslim wajib mengimani nya sebagai sebuah takdir. Namun dengan karunia akal pada diri manusia kita pun hendaknya mengkaji sisi ilmiah dari sebuah fenomena bencana yang pada akhirnya akan semakin menambah keyakinan dan keimanan kita kepada Allah, janganlah kita menutup akal pikiran kita dengan memandang sebuah bencana dari sisi rumor, mitos bahkan mistis yang sangat jauh dari ilmiah dan hanya membuat kita untuk taqlid tanpa ingin menelaah kebenarannya, malahan lebih jauh lagi dapat menjerumuskan kita kedalam kemurtadan naudzubillahi min dzalik.

2. Kesabaran
Seberapa besar sebenarnya kesabaran yang dimiliki oleh seorang manusia? tak ada ukuran yang pasti, sebagian berpendapat kalau sabar tak ada batasnya namun banyak juga yang bilang kalau sabar juga ada batasnya lantas kalau ada batasnya bukannya berarti tidak sabar? susah untuk menjawabnya memang dan gak usah berpolemik panjang karena gak akan ada habisnya. Tapi coba kita tengok kisah diatas, sepertinya kisah dua manusia unggul tersebut boleh kita jadikan sebuah acuan untuk mengukur derajat sebuah kesabaran dan bagaimana menyikapi sesuatu hal atau peristiwa dengan sabar. Lihatlah ketika Nabi Ibrahim akhirnya meyakini datangnya perintah Allah untuk menyembelih anaknya, bisakah kita bayangkan apa yang berkecamuk didalam hatinya, bisakah kita bayangkan bagaimana perasaannya? saya pribadi tidak bisa membayangkannya karena bagi seorang hamba biasa itu terlalu berat. Lalu coba kita lihat apa yang diucapkan Ismail ketika ayahnya menyampaikan perintah tersebut “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.Bisakah kita bayangkan kalau itu anak kita atau bayangkan kalau kita yang berperan sebagai Ismail. Lagi-lagi buat saya terlalu jauh untuk bisa menempatkan diri pada situasi seperti itu, terlalu jauh buat seorang hamba biasa untuk menjangkau kepatuhan dua insan yang luar biasa ini. Kita hanya bisa mengambil pelajaran bahwa kesabaran itu datang ketika kita memahami kebenaran dari perintah Allah, ketika kita meyakini dan mengimani ketentuan yang datang dariNya. Kepatuhan, ketaatan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail bukanlah asal patuh, asal taat, asal pasrah tapi semua itu adalah hasil dari pemahaman atas keyakinan dan keimanan yang mutlak kepada Allah, keyakinan dan keimanan bahwa sesungguhnya segala yang datang dari Allah adalah sebuah kebenaran. Patutlah kisah ini dijadikan cermin bagi kita untuk memahami bagaimana seharusnya sabar itu, sabar bukan sekedar menahan marah, menahan emosi tapi lebih dari itu sebuah kesabaran haruslah datang dari jiwa yang dipenuhi akan keyakinan dan keimanan atas kebenaran yang datang dari Allah.

3. Keikhlasan
Sulit memang untuk mengukur kadar keikhlasan kita ketika melakukan sesuatu, karena sebagai manusia apa yang kita lakukan seringkali berhubungan dengan kepentingan diri kita sendiri dan memang tidak ada sesuatu hal yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur keikhlasan amal kita. Namun tidak ada salahnya kalau kita mencoba bercermin dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail untuk sekedar mengambil pelajaran bahwa ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya dan setelah melalui pergolakan batin yang luar biasa akhirnya beliau memantapkan hati untuk melaksanakan perintah tersebut dengan ikhlas yang dalam hal ini beliau menyadari bahwa Allah yang telah memberinya anugerah keturunan yang sangat didambakannya dan Allah pula yang akan mengambilnya kembali. Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah dengan hati yang tulus dan merelakan putra tercintanya diminta kembali oleh Sang Penciptanya karena beliau percaya bahwa “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun”-Sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan kepadaNyalah semuanya akan kembali. Harta, kekuasaan, jabatan, hidup dan mati, keturunan dan segala anugerah kenikmatan yang kita rasakan, pada hakikatnya adalah milik Allah dan setiap saat atau kapanpun Allah menghendaki maka Dia berhak untuk mengambilnya kembali. Pada saat itulah kita diuji apakah kita sanggup merelakan apa yang menurut kita adalah milik kita sendiri untuk diambil kembali oleh pemiliknya yang hakiki. Atau ketika kita memiliki nasib yang kebetulan lebih beruntung dari saudara-saudara yang lain dengan diberi anugerah harta atau rezeki yang lebih baik dari orang lain sanggupkah kita dengan sadar dan rela untuk berbagi kepada sesama tanpa harus berpikir berapa liter keringat kita yang terkuras untuk mencari rezeki, tanpa harus menghitung berapa jauh jarak perjalanan yang kita tempuh, berapa banyak waktu yang digunakan untuk bekerja mencari rezeki, berapa besar pengorbanan kita untuk mencapai kesuksesan. Di bulan Dzulhijjah ini disunnahkan bagi sebagian dari kita yang mampu untuk mengikhlaskan sebagian dari hasil jerih payahnya untuk dikorbankan demi berbagi kepada sesama, tidak mudah memang untuk begitu saja memberikan apa yang sudah kita perjuangkan dengan susah payah lantas begitu saja kita korbankan demi orang lain, namun bila kita ingat kembali di bulan ini ribuan tahun yang lalu seorang ayah rela mengorbankan anaknya demi perintah Tuhannya, sungguh apa yang kita korbankan kali ini tidak ada sedikitpun bandingannya dengan keikhlasan berkorbannya Nabi Ibrahim dan Ismail.

4. Solidaritas Sosial
Di hari Idul Adha dan pada tiga hari berikutnya disunnahkan bagi muslim yang mampu untuk berkurban dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing/domba atau sapi atau unta. Kemudian daging hasil sembelihan tersebut dibagikan kepada orang lain yang tentunya lebih diutamakan untuk masyarakat sekitar dan kalangan yang kurang mampu. Ini adalah bukti bahwa agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebersamaan, kepedulian terhadap sama dan solidaritas sosial. Islam mengajarkan pengikutnya untuk berzakat yang termasuk salah satu rukun Islam, Islam juga mempunyai konsep shadaqoh, wakaf dan juga kurban dimana semua amal ini mempunyai konteks muamalah secara horisontal atau muamalah kepada sesama manusia. Ditengah kondisi masyarakat kita sekarang ini yang sangat terpengaruh oleh budaya liberal yang menimbulkan hasrat konsumerisme dan hedonisme jika kita mau untuk membuka mata kita, maka kita akan melihat ketimpangan yang ada di masyarakat, kita akan melihat betapa lebar kesenjangan antara kalangan yang mampu dengan yang tidak mampu, dan mungkin sebagian dari kita ada yang melihat dan tahu adanya ketimpangan dan kesenjangan sosial namun bersikap acuh tak peduli terhadap keadaan yang terlihat di depan matanya atau mungkin malah merasa bahwa ini adalah sebuah proses alam perwujudan dari teori evolusi dimana yang kuatlah yang akan berada di puncak tangga rantai evolusi. Kita lupa bahwa hidup dan mati, sehat dan sakit, susah dan senang, harta kekayaan dan kekuasaan semua adalah milik Allah semata. Kita seringkali beranggapan bahwa apa yang kita raih adalah hasil jerih payah sendiri dan melupakan Dia yang Maha Memiliki, Dialah pemilik hakiki dari apa yang kita miliki sekarang ini. Di bulan ini dengan disunnahkan berkurban bagi kita yang mampu, mari kita manfaatkan keagungan hari raya ini dengan mengingat keimanan, keikhlasan, kesabaran dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk berbagi kepada sesama kita.

Nah.. sekarang muncul pertanyaan besar… seberapa jauh kita sudah menyelami dalamnya hikmah Idul Adha ini? Bagi yang mempunyai rezeki lebih dan melaksanakan kurban, apakah sudah dipahami makna dibalik menyembelih hewan kurban, atau apakah kurban itu hanya sebatas menyembelih kambing atau sapi lalu dibagikan dan sebagian disate kemudian setelah itu selesai . Bagi yang sudah mampu – secara financial, fisik, mental & moral – untukmelaksanakan ibadah haji apakah sudah disadari bahwa ibadah haji adalah level tertinggi, puncak dari segala ibadah yang karena beratnya ibadah yang satu ini Allah pun mewajibkan ibadah haji hanya bagi yang sudah “mampu” yang seharusnya juga berarti bahwa keimanan, ketaqwaan , keikhlasan, kesabaran dan kepedulian terhadap sesama pun dapat mencapai level tertinggi, atau apakah ibadah haji hanya dianggap sebagi sebuah rutinitas tanpa makna? pergi ke mekkah, belanja oleh-oleh, pulang dengan selamat lalu syukuran besar-besaran sembari membagikan buah tangan dari negeri Arab seolah menunjukkan inilah hasil saya beribadah haji – dan setelah itu tamat, ibadah haji dianggap hanya masa lalu yang penting sekarang sudah bergelar haji, tanpa memikirkan implementasi nyata yang harus dilakukan ditengah masyarakat.

Kalau kita merenung, ternyata masih terlalu banyak kekurangan kita, masih sangat dangkal diri kita dalam memahami makna dari sebuah ibadah yang bagi sebagian besar kita hanyalah menjadi sebatas rutinitas belaka, apalagi kalau harus dibandingkan dengan para nabi dan rasul sungguh rasanya terlalu jauh untuk dijangkau oleh kita yang senantiasa bergelimang dosa. Mudah-mudahan sedikit coretan mengenai hikmah Idul Adha ini dapat menambah pemahaman kita dengan meneladani nabi Ibrohim ‘alihissalam dan memberi nilai baru dalam memaknai dan mengambil hikmah dibalik sebuah ibadah. aamiin.
Wallohul musta’an, Wallahu A’lam bisshawab.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: