Ibu, Maafkan Aku . . . .

5 04 2012

Dewi Muazah
Guru SD 02

Pagi itu, Alif berangkat ke sekolah bersama teman-temannya. Sebelum berangkat tidak lupa Alif mencium tangan ibu sambil berpamitan. Seperti biasa Alif dibonceng sama Rafi karena jarak dari rumah ke sekolah yang jauh dan Alif belum punya sepeda. Sesampainya di sekolah, mereka tidak lupa memberi salam dan mencium tangan ustadz dan ustadzah. Merekapun masuk kelas dan mengikuti pelajaran dengan penuh suka ria. Setelah pelajaran selesai, mereka pulang bersama-sama sambil bercerita tentang pelajaran di sekolah.
Sesampainya di rumah, tidak lupa Alif ganti baju lalu mencuci tangan dan kaki, karena kecapekan Alif langsung istirahat. Setelah istirahat, Alif menemui ibu yang sedang menyiram tanaman cabe dan tomat di kebun yang terletak di belakang rumah.

Alif : Ibu . . . ibu . . . ibu . . .
Ibu : Ya anakku, ibu di sini
Ada apa nak ???
Alif : Aku mau membantu ibu
Ibu : Alhamdulillah, ayo nak kita segera menyiram tanaman ini biar cepat selesai
Alif : Ayo bu . . .

Setelah selesai, mereka segera mandi lalu sholat maghrib dan mengaji bersama. Alif dan ibunya sangat senang dan bersyukur meskipun mereka hanya tinggal berdua. Setelah selesai sholat isya’, mereka makan bersama lalu berbincang-bincang di teras depan rumah.

Alif : Bu, Alif pengen sekali punya sepeda. Alif pengen seperti teman-teman Alif yang bisa bawa sepeda ke sekolah
Ibu : Ya nak ibu juga pengen sekali bisa membelikan Alif sepeda. Tapi ibu belum punya uang nak, Alif sabar ya . . . .
Alif : Ia bu, tapi kapan ?
Kapan Alif bisa seperti teman-teman yang lain ?
Ibu : Do’akan besok waktu panen cabe dan tomat dapat banyak ya …
biar ibu bisa membelikan Alif sepeda baru
Alif : Ia bu, janji lho . . . .

Permintaan Alif ke ibunya bukan pertama kali disampaikan tapi itu udah ke 4 kalinya. Tapi gimana lagi ibu Alif belum punya uang. Ibu Alif selalu berdoa kepada Allah agar bisa membelikan Alif sepeda seperti teman-temannya tapi ibu Alif belum punya uang. Jangankan buat beli sepeda buat membeli beras aja masih sulit.
Waktu panen pun tiba, tapi sayang do’a Alif dan ibunya belum dikabulkan oleh Allah SWT. Cabe dan tomat banyak yang dimakan ulat. Ibu Alif sangat sedih selain panennya cuma dapat dikit, dia juga belum bisa membelikan Alif sepeda.

Alif : Assalamu’alaikum
Ibu : Wa’alaikum salam, sudah pulang nak ?
Alif : Ya bu…, oh ya bu, gimana panennya ? dapat banyak kan ?
Ibu : Maaf sekali nak, panen ini ibu belum bisa membelikan kami sepeda, panen cabe dan tomatnya gagal
Alif : Ibu gimana sich, ibu kan sudah janji sama Alif ???
Ibu : Ibu kan bilang, kalo panennya dapat banyak nak . . . .
Alif : Pokoknya ibu harus belikan Alif sepeda. Ibu sudah janji sama Alif
Ibu : Alif sabar ya nak, kita berdo’a lagi sama Allah mudah-mudahan ibu dapat rejeki yang lebih sehingga bisa membelikan Alif sepeda
Alif : Ibu gak sayang sama Alif
Ibu tega sama Alif

Alif langsung membanting pintu sambil lari keluar rumah. Padahal cuaca lagi mendung mau hujan. Panggilan ibu tidak lagi dihiraukan Alif, ibu Alif menangis melihat anaknya yang tidak mempedulikannya lagi.
Kecemasan ibu Alif bertambah karena jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, tapi Alif belum pulang. Padahal ibu Alif sudah mencari kemana-mana. Ibu Alif terus berdoa agar Alif cepat pulang ke rumah dan keadaannya baik-baik saja. Waktu ibu Alif berdoa, terdengar suara orang dari luar mengucap salam.
Astaghfirullahhal’adzim ternyata yang datang seseorang sambil membawa ambulance yang ternyata ada Alif yang sedang terluka didalamnya. Ibu Alif menangis dan tak tega melihat Alif yang menangis kesakitan.
Ternyata waktu Alif lari keluar rumah Alif tertabrak motor, untung lukanya tidak terlalu parah.

Ibu : Alif anakku . . . .
Alif : Ibu . . . maafkan Alif bu
Alif menyesal sudah marah dan tidak mendengarkan nasehat ibu. Maafkan Alif bu. . . .
Ibu : Ia nak ibu sudah memaafkan Alif kok

Anak-anakku, memuliakan orang tua wajib hukumnya. Jangankan kita memarahi atau membentak mereka, berkata Ah saja sangat dilarang.

Ibu adalah orang yang sudah mengandung kita selama + 9 bulan 10 hari. Sudah dengan susah payahnya melahirkan kita, menyusui kita dan dengan ayah dia merawat dan membesarkan kita. Seluruh jiwa dan raga mereka korbankan, demi kita. Kita tidak akan pernah mampu membayar/menggantikan jasa mereka.
Waktu malam mengantuk dan secapek apapun, dia rela membuka mata untuk memberi kita minum, menggantikan popok kita. Setetes keringatnya tidak akan mampu kita gantikan dengan apapun. Keinginan mereka hanya satu yaitu melihat anak-anaknya menjadi anak sholeh dan sholehah. Semoga kita semua bisa membuat mereka selalu tersenyum karena mereka bangga dengan kita. Amieen….


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: