Lestarikan budaya batik

3 04 2012

Dalam rangka melestarikan budaya Indonesia dalam hal Seni Batik Sebanyak 150 Siswa kelas III SD Al Irsyad 02 Purwokerto belajar membatik menggunakan canting di rumah batik, Jum’at, 30 Maret 2012. Kegiatan membatik tersebut sebagai bentuk pengenalan budaya serta mendidik anak telaten dan kreatif.

mengenalkan kepada siswa-siswi kelas III agar mengetahui dan mencitai Batik khususnya batik Khas Banyumas, untuk itu kami mengajak anak-anak mengunjungi  tempat Industri kerajinan di sebuah rumah batik di kecamatan sokaraja,Kabupaten Banyumas tepatnya di Perusahaan “Antos Jamil Batik”

Sebelumnya kegiatan dimulai, para siswa diberikan materi dan penjelasan tentang bagaimana cara dan tehnik membatik yang baik sehingga menghasilkan batik bagus kualitasnya. Selain itu para siswa juga dikenalkan macam-macam motif batik antara lain motif hewan, tumbuhan, alam dan bentuk-bentuk ilmu ukur.”sebelum membatik kita harus menentukan jenis motif batik tersebut. Setelah menentukan motifnya, kita juga harus tahu tehnik membatik dengan baik dan benar untuk mengahasilkan kualitas batik yang baik” terang pak Anto, pemilik rumah batik kepada anak-anak.

Kepala SD Al Irsyad 02, Totok Yulianto menegaskan bahwa kegiatan membatik ini merupakan salah satu cara untuk mencintai warisan budaya bangsa kita. “Kita memang ingin melestarikan batik sehingga kita mencoba membekali para siswa tersebut dengan ilmu dan pengetahuan membatik serta mengenalkan sejak dini proses pembuatan batik”. Di samping itu kita juga berharap kegiatan ini akan menjadi kesan yang baik bagi anak. “kami berharap agar pengetahuan dalam membatik menjadi kesan positif dan diingat hingga dewasa dan bisa sebagai landasan bagi anak untuk mencintai produk dan budaya Indonesia” harap ustadz Totok.

Hamna ,salah seorang siswa kelas III mengaku senang bisa belajar membatik. Beberapa kali, dia menyeka keringat di dahinya. Maklum, di depannya ada kompor untuk memanaskan malam, bahan membatik. “Kelihatannya mudah, namun setelah belajar membatik sendiri ternyata sulit, apalagi memegang tempat untuk membatik” katanya sambil tersenyum.

Lain lagi dengan Dila, dia merasa senang karena dapat melihat langsung dan belajar langsung dari proses pembuatannya. “Saya bisa belajar langsung tentang cara membatik, sehingga saya tahu kalau membatik tidak mudah dan perlu kesabaran,” paparnya. (Abdul Qohin)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: