Menggali Makna Terdalam Perayaan Idul Adha*

22 11 2011

Idul Adha merupakan salah satu hari besar dalam Islam. Dalam hari raya ini, terkandung nilai-nilai sejarah (historis) yang begitu mendalam. Idul Adha atau yang sering dikenal dengan Idul Kurban, mengingatkan kepada kita bagaimana proses perjuangan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim ‘Alaihi as-Salam. Dimana nabi Ibrahim ‘Alaihi as-Salam mendapatkan wahyu untuk menyembelih putranya sendiri yang bernama Ismail. Disinilah nabi Ibrahim‘Alaihi as-Salam dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Rabb-nya atau mempertahankan buah hati yang dicintainya, sebuah pilihan yang sangat dilematis. Namun karena ketaqwaan dan kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihi segalanya, maka perintah tersebut beliau laksanakan juga, dan pada akhirnya Ismail digantikan dengan seekor kibas (sejenis domba).

Sebagaimana kita ketahui bahwa disyariatkannya menyembelih kurban pada hari raya Idul Adha adalah untuk mengenang kembali peristiwa yang terjadi pada nabi Ibrahim ‘Alaihi as-Salam. Suatu ujian yang berat telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan untuk mengetahui seberapa tingkat keyakinan, keimanan dan ketaatan nabi Ibrahim ‘Alaihi as-Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan wahyu kepadanya agar menyembelih anaknya sendiri. Putra yang sangat disayangi dan menjadi buah hati selama ini ternyata harus disembelih dengan tangannya sendiri. Betapa sedih hati nabiyyuna Ibrahim ‘Alaihi as-Salam ketika mendapat perintah untuk menyembelih anaknya ini. Namun dalam jiwa nabi Ibrahim ‘Alaihi as-Salam, kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihi segalanya termasuk anaknya sendiri.

Peristiwa diatas adalah titik awal dianjurkannya perintah untuk berkurban bagi umat Islam, terutama bagi orang yang mampu. Maka dengan adanya perintah berkurban tersebut, kita sebagai umat Islam dituntut untuk tidak hanya melaksanakan ritual keagamaan semata, atau tidak hanya sekedar melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi kita juga diberi kesempatan untuk memanifestasikan rasa solidaritas kita kepada manusia yaitu dengan cara membagi-bagikan daging kurban kepada fakir miskin dan kaum duafa di sekitar tempat tinggal kita. Peristiwa itulah yang kemudian menjadi simbol bagi umat Islam sebagai wujud ketaqwaan seorang manusia mentaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika kita cermati lebih jauh, ternyata perintah berkurban ini mengandung suatu pelajaran bahwa untuk memperoleh keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala membutuhkan pengorbanan. Secara bahasa, berkorban adalah suatu sikap mendasar manusia yang diwujudkan dengan memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan. Dan dalam terminologi Islam, kurban yang dikaitkan dengan peristiwa Idul Adha berarti menyembelih binatang kurban dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin serta saudara di sekeliling kita sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari pengertian tersebut dapat kita ketahui, bahwa melalui perintah berkurban, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menanamkan nilai-nilai ketaqwaan manusia agar kualitas dirinya semakin meningkat, sehingga mampu menghadapi segala cobaan dan rintangan dalam menjalani kehidupan. Sebab substansi dari ajaran berkurban bukan terletak pada darah dan daging binatang yang kita sembelih, tetapi pada ketakwaan yang tertancap dalam diri kita, yang menggerakkan hati (qalbu) untuk selalu rela berkorban dengan segala apa yang kita miliki di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disamping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengajarkan kepada kita agar senantiasa menjaga hubungan sosial antar sesama manusia yaitu dengan menebarkan kasih sayang, yang kuat membantu yang lemah dan yang kaya membantu yang miskin.

Bukan hanya itu, dalam perayaan Idul Adha yang didalamnya mencakup penyembelihan hewan kurban juga terdapat makna yg penting dalam kehidupan. Makna ini perlu kita renungkan dalam-dalam dan selalu kita kaji ulang agar kita lulus dari berbagai macam cobaan hidup yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diantara pemaknaan Idul Adha adalah sebagai berikut;

Pertama, dari lafadz takbir (Allahu Akbar) kita belajar menjadi manusia yang rendah hati (tawadhu’) karena hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala jualah yang maha segalanya sedangkan kita sebagai manusia hanyalah salah satu makhluk dari ciptaan-Nya.

Kedua, dari lafadz tahlil (lailaha illallah) kita belajar lebih dalam lagi tentang mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita semakin yakin untuk menjauhkan diri kita dari perbuatan syirik.

Ketiga, dari lafadz tahmid (walillahi al-hamd) kita belajar untuk tidak gila pujian karena segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Tuhan semesta alam.

Keempat, dari shalat ‘id al-adha kita belajar arti kebersamaan bahwa kita sebagai umat Islam berkumpul bersama dalam satu tempat untuk melaksanakan ibadah shalat sunnah. Di sana tidak ada perbedaan status sosial antara si kaya dan si miskin, antara atasan dan bawahan, semuanya sama di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun yang membedakan hanya dari sisi ketaqwaannya.

Kelima, dari hewan qurban yang kita sembelih berarti kita melatih jiwa solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama, karena dengan memotong hewan kurban, artinya kita memberikan kesempatan kepada saudara kita yang kurang mampu untuk menikmati daging.

Dan keenam, dari ibadah haji kita belajar mengasah kadar ketakwaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan mengorbankan harta, waktu, tenaga bahkan jiwa demi melaksanakan rukun Islam yang kelima.

Sungguh, begitu banyak hikmah dan pelajaran yang kita dapatkan dari perayaan Idul Adha ini, apalagi sebagai seorang muslim yang hidup bersosial, perayaan Idul Adha bukan hanya sekedar mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama manusia, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan. Dengan demikian, melalui perayaan hari raya Idul Adha, di samping kita menjalin hubungan yang baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (hablu minallah) melalui peningkatan kualitas taqwa, kita juga dituntut untuk menjalin hubungan yang baik antar sesama manusia (hablu min an-nas) dengan memupuk solidaritas sosial dan empati yang tinggi.

[*] Oleh: Alex Nanang Agus Sifa, S.Fil.I
(Guru SD 02 Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: